Lier But Lover (Revisi)


Lier But Lover
Prolog
Tik. Tik. Tik…

Sudah beberapa kali aku mendelik kearah jam tanganku. Dan dia belum juga datang. Hal yang paling ku benci adalah menunggu seperti ini. Tapi apa boleh buat? Tapi hal ini tidak membuat senyumku menghilang. Hell to the no, for my entire life I will spend my life just to be with him. Soon.

“Sayang,” panggil seseorang. Aku menoleh enggan karena tahu siapa yang memanggilku.
“Maaf aku telat. Tadi macet banget. Sorry…” dia tersenyum lebar. Aku masih memasang wajah bête.
“Iyaa. Tapi ngaretnya nggak nyampe setengah jam juga kali.” Aku merenggut sebal tapi dengan cepat dia mencubit pipi tembamku.
“Uuuhhh ngambeknya lucu. Manyunnya ngegemesin. Jadi nggak sabar nih…”
“Apaaa??” tanyaku was-was. Dia tertawa pelan, “Bercanda, sayang. Jangan di ambil serius dong. Oh ya? Gimana sama rencananya? Aman kan?”
“Sebenernya…”
“Permisi, silahkan lihat menu terbaru kami…” potong sang pramusaji. 

Ketika Rano sedang mengatakan pesanan yang akan kami pesan. Aku terus memperhatikan dirinya berbicara. Wajahnya. Matanya. Hidung mancung sexynya. Bibirnya. His smile. Kemudian cincin tunangan kami yang melekat indah di jari manisnya. Apa yang buat aku cinta mati sama orang ini? Well, he knock my “door” when no body want in there. And he said, he’s lucky to found me.
***


“Gimana sama persiapannya? Ini sudah H-20.” Tanya mertuaku. Aku melirik kearah lelaki disebelahku yang sedang sibuk mengemudi, memperhatikan jalan.
“Baik-baik aja kok, Ma. Ini aku lagi jalan sama Rano. Mau fitting Gaun sama Tuxedo dan kebayanya juga. Mama sama Papa nggak ikut juga?”
“Baguslah kalau begitu. Seneng Mama dengernya. Nggak usah, Ra. Nanti jadi ganggu acara kalian berdua.” Tolak Mama.
“Nggak kok, Ma. Lagian biar Mama sama Papa bisa control nih kelakuan Rano kayak gimana.” Aku menyindirnya karena sekarang yang sedang dia lakukan adalah…nyuekin aku. Dan sepertinya dia nggak sadar aku sedang bercanda. Ggrrrrrr~
“Hahaha nggak apa-apa toh. Bentar kalian juga nikah. Yaudah, Mama tutup telfonnya ya. Salam untuk Rano.”
“Iya, Ma…” aku putuskan untuk sedikit mengerjainya. Karena pancingan ku tadi, tidak dia respon.
Sengaja aku kencangkan suaraku agar dia mendengarnya. “Ma, tahu nggak? Rano sering cium-cium aku, Ma. Dia suka megang-megang…”
“Eh, bohong, Ma. Bohong.” Teriak Rano dan dia rebutlah ponselku. Ketika dia melihat sambungan telfon sudah terputus, dia menatapku kejam.
“Wah bandel ya kamu? Di cium beneran baru tahu.” Dia memajukan wajahnya kearahku. Dengan cepat aku tutup wajahku.

Nafasnya terasa dikulitku. Hangat.

Satu detik.

Dua detik.

TIIINNNN..TIIINNNNN…

“Hahaha kasian deh nggak bisa. Buruan tancap gas. Nanti keburu diamuk masa kamu.” Aku mencibir.
“Liat aja, nanti kalau udah aku cium. Pasti ketagihan.” Godanya. Aku terkekeh.
“Uuuuu takutt.”
“Hahahahaha…”
“Hahaha…”
“Oh ya, tadi  Mama nanya apa aja sama kamu?” tanyanya ketika kami sudah sampai di butik dan sedang mencari tempat parkir.
“Ya gitu aja. Udah sejauh mana persiapan kita berdua.” Dia mengangguk dan bergegas keluar mobil. Dan membukakan pintu untukku.
“Udah nggak kerasa ya, 10 days left and then we got married. Nggak kebayang seberapa senengnya aku ketika udah bener-bener milikin kamu, Ra.” Jantungku memompa darah ku teralu cepat sepertinya, karena saat ini sungguh berdebar-debar sekali. Rasanya aku ingin menciumnya. Bibirnya. Matanya. Ketika dia mengatakan hal tadi, he’s eyes talking with mine.
So do I. So do I, darling.
***

“Gimana, Mbak? Cocok nggak?” aku melihat bayanganku dicermin. Who’s that girl? Sumpah. Beda banget sama aslinya. Ini versi cantiknya, tak bosan-bosan aku pandangi siluet-ku dalam balutan gaun indah ini.

Aku menoleh kearah Rano hendak menanyakan pendapatnya, namun dia diam tanpa kata dan terus staring at me. “What?”  tanyaku bingung. Kemudian dia mendekatiku, memegang tanganku, dan menatap mataku. Tepat dikedua mataku.

“Apa sih, sayang? Since you’re here, you didn’t say anything. Not even a word.”
“You know what a beautiful word means?” aku menggeleng dan masih dengan tatapan tidak mengerti.
“My god! I married an angel. Andaikan aku bisa, aku pengen banget. Kecantikan kamu Cuma aku aja yang liat.” Aku tersenyum tersipu. Sang Designer and her crew memandang kami penuh pengertian.
“Bisa tinggalin kami sebentar, Mbak. Ada yang mau dibahas sebentar.” Aku tersenyum mohon pengertian kepada sang Designer. Ketika mereka telah meninggalkan ruangan ini, aku pun segera menariknya kedalam ruang ganti. Kemudian menyuruhnya duduk. Dan aku duduk dipangkuannya.
“If I ask you one wishes. Would you give it?” dia mengangguk girang. Matanya tak henti-henti menatap kedua bola mataku.
“Kiss me.” Pintaku. Dia sedikit tercengang kemudian memajukan bibirnya, aku memejamkan mata. Namun sudah beberapa detik aku menunggu, bibir sexy-nya tak kunjung mendarat juga. Ketika aku hendak membuka mata, Rano menahannya.
“I’d love too. Tapi ini bukan saatnya, sayang. I want you but I can’t take anything from you until that day.” Then he kisses my forehead.
Aku tersenyum lega. Mataku memandangnya haru, aku memeluknya erat dan dia membalas pelukanku. “Glad to hear it. But really, I want it. Thankyou for your patient.” Makin erat pelukanku.

***
Clarissa’s Side.

Rano. Muhammad Rano Firmansyah adalah nama lengkapnya. Before, he’s guardian angel everybody. But today, only me that he take cares of. Rano itu sesosok…

Manusia yang nggak sempurna tapi mampu menutupi kekurangan aku. Banyak kekurangan di diriku yang dia bisa terima. Contohnya, aku pernah punya mantan. First ex, actually. Dia…kami putus karena dia nggak bisa terima diri aku yang egois, cemburuan, dan gampang ngambek ini. Tapi entah kenapa Rano, can handle it. I had read some quotes but this is my favorite one  :

“Sometimes, you don’t have to be perfect to the one you love. It’s better to waiting someone who loves you, even you’re not perfect.”

 Just for info, we never dating before. Tapi bond yang kita rasain itu udah ada sekitar empat tahun yang lalu. Then last year he purpose me, It so suddenly ofcourse but my heart is taken. So there’s no to him. Dan tahun depannya, which is this year. We get married. Bagi aku, ini adalah hal yang mustahil. Tapi ketika dia datang, semua pandanganku berubah. 180 derajat. Everything has change. Rano itu, pas dulu banget, dia kakak kelas ku ketika aku masih dibangku SMA. Gimana aku bisa kenal dia? Well, bagi aku, this little things sangat berpengaruh walau bagi temen-temen sih Cuma sebatas kagum. Tapi dari kagum itu tumbuh rasa lain.

Ketika aku kelas satu SMA, aku mengikuti kegiatan sekolah. Student day Lukis. Dan hari itu, kami mau tour. First, ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ketika kami semua, angkatan aku dan angkatannya berkunjung ke tempat pertama, ada satu kejadian lucu. Ketika teman sebelahku rebut karena ada kecoa yang jalan-jalan di dekat jendela. Dan kecoa itu terbang kemana-mana, saat itu Rano memandang aneh kami dan menahan tawa. Namun ketika aku mulai ketakutakn juga, dia membantu kami membrantas kecoa tersebut. See? Hal kecil pertama. Just some info, karena kejadian ini. Aku dan teman-teman menyebutnya “Kakak Kecoa.”
Kunjungan kedua kami, Lunch di Pantai Ancol, saat itu bus kami sedang on the way ke Pantai Ancol. Guru kami sudah mengintruksikan Rano membagikan makan siang kami semua. Cuma ada satu hal dipikiranku sejak tadi, “Gimana minta makanan sama ini orang?” soalnya posisi aku dan temanku berada didalam. Namun, orang pertama yang dia berikan adalah aku dan temanku. Plus senyum manisnya dia. I’ll never forget his smile. See? Hal kecil kedua.

 Ketika selesai makan siang, kami bergerak ke Pasar Seni di Ancol. Looking around. Disini aku berpisah dengan rombongannya yang pasti dia sedang dengan teman se-angkatannya. Disini, kami diberikan waktu bebas. Boleh ke Pantai lagi tapi jangan terlalu lama. Aku dan teman-teman memutuskan untuk ke Pantai. And guess what? Kami bertemu lagi. Dan dia terus memamerkan senyum manisnya. Little things, tapi damn! Kalian harus liat betapa manisnya senyumnya itu. Melting. Aku dan kawan-kawan menaiki perahu dan kami membeli dua ubur-ubur kecil. Sekedar untuk permainan saja. Kejam sih, soalnya ubur-ubur itu bisa mati karena tidak ada oksigen didalam plastik yang diikat rapat. Ketika kami kembali ke Bus, hampir semua orang sudah ada. Tinggal menunggu guru kami datang dan kami pulang. Selama kami menunggu diluar bus, tidak sedikit kakak kelas yang melirik kearah kami. Menanyakan dimana kami mendapatkan ubur-ubur ini? Dan ada beberapa dari mereka menawarkan ingin membeli ubur-ubur kami, tapi kami tidak berniat menjualnya. Dan mereka berlari kearah Pantai, dimana kami membeli ubur-ubur tersebut.

Ketika Bus sudah bergerak, hujan mulai turun dan suhu mulai mendingin. Bus kami diisi dengan suara Bonda Prakoso dan fade to black. Really, I will never ever forget this moment. When I and my friend’s laugh but in the middle of us there’s him. Sometimes, it’s awkward. Ketika aku menengok kearah temanku yang duduk diseberang, pasti melewati mukanya yang manis, ganteng, melting itu. Keadaan membaik ketika temanku menertawai kebodohan Vivi yang menjatuhkan ubur-ubur yang baru dia beli. Tak bisa ku pungkiri, Rano mendengar itu semua dan dia terlihat menahan tawanya. Ketika sudah tidak ada pembahasan lagi, kami terdiam. Aku memainkan plastic yang berisi ubur-ubur ini.

“Sya, masa plastic ubur-ubur gue anget.” Kata ku seraya mengangkat plastic itu.

“Iya, ampe megap megap.” Tassya tertawa. Kak Rano yang sedang memejamkan matanya, seketika membuka matanya dan melihat kearah plastic itu dan ikut menyentuhnya. Kemudian dia tersenyum. Damn! Why your smile make my heart beating fast?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Welcome to my "Blog"